Tampilkan postingan dengan label Refleksi Diri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Refleksi Diri. Tampilkan semua postingan

Arti Kebahagiaan

Kebahagiaan adalah keputusan yang berkelanjutan, yang harus dibuat dari waktu ke waktu.

Kebahagiaan kita adalah keindahan dan suasana hati kita.

Dan keindahan itu datang dari kualitas pilihan sikap dan perilaku kita - sepanjang hari dan setiap waktu

Kebahagiaan bukanlah sebuah kebetulan, bukanlah sebuah kejadian tidak terduga dan bukan juga sebuah kecelakaan.

Kebahagiaan adalah sebuah penikmatan keadaan yang harus diputuskan rancangannya, dan yang harus diputuskan penghayatannya.

Dengannya, kebahagiaan Anda adalah sebetulnya hasil dari ketepatan keputusan-keputusan Anda

Kebahagiaan adalah rasa gembira dalam kedamaian yang penuh syukur



maka hanya orang baik yang bisa berbahagia


(Mario Teguh)

I Think to Myself what a Wonderful World

Sadarilah, kehidupan menjadi sangat indah bagi mereka yang menginginkan apapun yang telah dimilikinya.


Disitulah terletak sumber rasa syukur yang syahdu.


Dan dari situlah berkembang kepekaan dari pandangan, pendengaran dan perasaan Anda mengenai kehidupan dunia yang telah menyeru kepada Anda sejak kelahiran Anda.


Tidak akan tersedia cukup waktu dalam hidup ini untuk mengumpulkan semua kupu-kupu yang cantik.


Itulah sebabnya, cara terbaik untuk menikmati banyak keindahan, adalah dengan menikmati apapun keindahan yang ada pada kita, dan menyambut dengan suka cita bila keindahan baru datang bertamu


(Mario Teguh)


Hurry Up !!

Anda tidak pernah terlambat untuk menjadi sebagaimana Anda seharusnya menjadi.

---

Itu berarti bahwa semakin cepat Anda memulai, semakin keras Anda bekerja, dan semakin
penting nilai dari yang Anda selesaikan bagi orang lain - semakin cepat juga Anda mencapai
kepantasan untuk hidup dalam kualitas yang Anda idamkan.


Karena,

Anda yang bersegera dalam tindakan yang berniat baik, akan disegerakan mencapai kebaikan.


(Mario Teguh)


Membangun Pribadi yang Membahagiakan

Belajarlah sebanyak mungkin dari orang lain,
tetapi bergantunglah dengan setulusnya hanya kepada diri Anda sendiri.


lalu


Bangunlah pribadi yang akan membahagiakan Anda sepanjang hidup, karena hanya dialah yang dapat benar-benar menjadi sahabat Anda.


dan


Bersabarlah dengan pekerjaan-pekerjaan kecil yang membutuhkan kesungguhan untuk menjadikan kehidupan Anda sebuah kehidupan yang besar dan bernilai.


(Mario Teguh)


Harga Sebuah Baju

Seorang wanita yang mengenakan gaun pudar menggandeng suaminya yang
berpakaian sederhana dan usang, turun dari kereta api di Boston, dan
berjalan dengan malu-malu menuju kantor Pimpinan Harvard University.

Sesampainya disana sang sekretaris Universitas langsung mendapat kesan
bahwa mereka adalah orang kampung, udik, sehingga tidak mungkin ada
urusan di Harvard dan bahkan mungkin tidak pantas berada di Cambridge.

"Kami ingin bertemu Pimpinan Harvard", kata sang pria lembut.
"Beliau hari ini sibuk," sahut sang Sekretaris cepat.
"Kami akan menunggu," jawab sang Wanita.

Selama 4 jam sekretaris itu mengabaikan mereka, dengan harapan bahwa
pasangan tersebut akhirnya akan patah semangat dan pergi. Tetapi
nyatanya tidak.

Sang sekretaris mulai frustrasi, dan akhirnya memutuskan untuk
melaporkan kepada sang pemimpinnya.

"Mungkin jika Anda menemui mereka selama beberapa menit, mereka akan
pergi," katanya pada sang Pimpinan Harvard.
Sang pimpinan menghela nafas dengan geram dan mengangguk. Orang
sepenting dia pasti tidak punya waktu untuk mereka.

Dan ketika dia melihat dua orang yang mengenakan baju pudar dan
pakaian usang diluar kantornya, rasa tidak senangnya sudah muncul.
Sang Pemimpin Harvard, dengan wajah galak menuju pasangan tersebut.

Sang wanita berkata padanya, "Kami memiliki seorang putra yang kuliah
tahun pertama di Harvard. Dia sangat menyukai Harvard dan bahagia di
sini. Tetapi setahun yang lalu, dia meninggal karena kecelakaan. Kami
ingin mendirikan peringatan untuknya, di suatu tempat di kampus ini.
bolehkah?" tanyanya, dengan mata yang menjeritkan harap.

Sang Pemimpin Harvard tidak tersentuh, wajahnya bahkan memerah. Dia
tampak terkejut. "Nyonya," katanya dengan kasar, "Kita tidak bisa
mendirikan tugu untuk setiap orang yang masuk Harvard dan meninggal.
Kalau kita lakukan itu, tempat ini sudah akan seperti kuburan."

"Oh, bukan," Sang wanita menjelaskan dengan cepat,
"Kami tidak ingin mendirikan tugu peringatan. Kami ingin memberikan
sebuah gedung untuk Harvard."

Sang Pemimpin Harvard memutar matanya. Dia menatap sekilas pada baju
pudar dan pakaian usang yang mereka kenakan dan berteriak, "Sebuah
gedung?! Apakah kalian tahu berapa harga sebuah gedung? Kalian perlu
memiliki lebih dari 7,5 juta dolar hanya untuk bangunan fisik Harvard."

Untuk beberapa saat sang wanita terdiam. Sang Pemimpin Harvard senang.
Mungkin dia bisa terbebas dari mereka sekarang.

Sang wanita menoleh pada suaminya dan berkata pelan, "Kalau hanya
sebesar itu biaya untuk memulai sebuah universitas, mengapa tidak kita
buat sendiri saja ?"

Suaminya mengangguk. Wajah sang Pemimpin Harvard menampakkan
kebingungan. Mr. dan Mrs. Leland Stanford bangkit dan berjalan pergi,
melakukan perjalanan ke Palo Alto, California, di sana mereka
mendirikan sebuah Universitas yang menyandang nama mereka, sebuah
peringatan untuk seorang anak yang tidak lagi diperdulikan oleh Harvard.

Universitas tersebut adalah Stanford University, salah satu
universitas favorit kelas atas di AS.

Pesan Moral :
Kita, seperti pimpinan Harvard itu, acap silau oleh baju, dan lalai.
Padahal, baju hanya bungkus, apa yang disembunyikannya, kadang sangat
tak ternilai. Jadi, janganlah kita selalu abai, karena baju-baju, acap
menipu

(FBI)

Jangan Benci Saya Mom!

(Sebuah Kisah Ironis di Irlandia utara yang telah diterjemahkan kedalam
bahasa Indonesia)




Saya ibu terburuk di dunia ini

Oh, Tuhan, ijinkan aku menceritakan hal ini..., sebelum ajal menjemputku...

20 tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan
tampan namun terlihat agak bodoh... Sam, suamiku, memberinya nama Eric.

Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang.
Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau
pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya
membesarkannya juga.

Ditahun kedua setelah Eric dilahirkan sayapun melahirkan kembali seorang
anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat
menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke
taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah... Namun
tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian
butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih
penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.

Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun
kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin
menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal
seumur hidup.

Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya dengan beserta Eric yang
sedang tertidur lelap. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah
kami laku terjual untuk membayar hutang.

Setahun..., 2 tahun..., 5 tahun..., 10 tahun... telah berlalu sejak kejadian
itu. Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Ia adalah
seorang pastor di gereja St. Maria. Usia pernikahan kami telah menginjak
tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya
yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit
menjadi lebih sabar dan penyayang.

Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri
sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi
yang mengingatnya.

Sampai suatu malam... Malam dimana saya bermimpi tentang seorang anak...
Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali... Ia melihat ke arah saya.

Sambil tersenyum ia berkata, "Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu
cekali pada mommy!"
Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya,
"Tunggu..., sepertinya saya mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?"
"Nama saya Elic, Tante."
"Eric...? Eric... Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?"

Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai
perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas
kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar di
kepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa
jahatnya perbuatan saya dulu.

Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati..., mati...,
mati... Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke
pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran
saya.

Ya Eric, mommy akan menjemputmu Eric...

Sore itu saya memarkir mobil Civic biru saya disamping sebuah gubuk, dan
Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping. "Mary, apa yang
sebenarnya terjadi?"

"Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang
telah saya lakukan dulu," tapi aku menceritakannya juga dengan
terisak-isak... Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan
suami yang begitu baik dan penuh pengertian.

Setelah tangis saya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari
belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari
hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali
beberapa bulan lamanya dan Eric... Eric... Saya meninggalkan Eric di sana 10
tahun yang lalu.

Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka
pintu yang terbuat dari bambu itu... Gelap sekali... Tidak terlihat sesuatu
apapun juga! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam
ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya.
Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah. Saya mengambil
seraya mengamatinya dengan seksama... Mata mulai berkaca-kaca, saya
mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu
dikenakan Eric sehari-harinya...

Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, sayapun
keluar dari ruangan itu... Air mata saya mengalir dengan deras. Saat itu
saya hanya diam saja.

Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat
tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat
kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang
itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua.

Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan
suaranya yang parau, "Heii...! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?"

Dengan memberanikan diri, sayapun bertanya, "Ibu, apa ibu kenal dengan
seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?"

Ia menjawab, "Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk!! Tahukah
kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus
menunggu ibunya dan memanggil, 'Mommy..., mommy!' Karena tidak tega, saya
terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun
saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai
pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu!
Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar
menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini
untukmu..."

Sayapun membaca tulisan di kertas itu, "Mommy, mengapa Mommy tidak pernah
kembali lagi...? Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi
saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric.
Bye, Mom..."

Saya menjerit histeris membaca surat itu. "Bu, tolong katakan... Katakan di
mana ia sekarang? Saya berjanji akan menyayanginya sekarang! Saya tidak akan
meninggalkannya lagi, Bu! Tolong
katakan...!!!"

Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.

"Nyonya, semua sudah terlambat (dengan nada lembut). Sehari sebelum nyonya
datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini.
Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela
bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut
apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di
dalam sana... Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk
ini... Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus
bersikeras menunggu Nyonya di sana. Nyonya, dosa anda tidak terampuni!"

Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.

--Marry Scheleery--


(thanks elang)

Dua yang Harus Dihadapi......

Di dunia ini ada dua kesusahan,
Naik Surga susah
Tapi minta tolong orang lain lebih susah

Di dunia ini ada dua kepahitan,
Pil Malaria pahit
Tapi kemiskinan lebih pahit

Di dunia ini ada dua bahaya,
Rimba kelana berbahaya
Tapi hati orang lebih berbahaya

Di dunia ini ada dua yang tipis,
kertas itu tipis
Tapi persahabatan itu lebih tipis


(pepatah Cina)

Suatu waktu................,

seorang bayi siap untuk dilahirkan ke dunia.

Menjelang diturunkannya, ia bertanya kepada Tuhan.
" Para malaikat di sini mengatakan bahwa besok Engkau akan mengirimkanku
ke dunia. Tapi bagaimana cara saya hidup disana, saya begitu kecil dan
lemah" kata si bayi

Tuhan menjawab,
"Aku telah memilih satu malaikat untukmu. ia akan menjaga dan
mengasihimu"

"Tapi di surga, apa yang saya lakukan hanyalah bernyanyi dan tertawa.
Ini cukup bagi saya untuk bahagia" Demikian kata si bayi

Tuhan pun menjawab,
"Malaikatmu akan bernyanyi dan tersenyum untukmu setiap hari dan kamu
akan merasakan kehangatan cintanya dan jadi lebih berbahagia"

Si bayi pun bertanya kembali
"Dan apa yang dapat saya lakukan saat saya ingin berbicara kepada-Mu?"

Sekali lagi Tuhan menjawab,
"Malaikatmu akan mengajarkan bagaimana cara kamu berdo'a"

Si bayi masih belum puas. ia pun bertanya lagi,

"Saya mendengar bahwa di bumi banyak orang jahat. Siapa yang akan
melindungi saya ?"

Dengan penuh kesabaran Tuhan menjawab,
"Malaikatmu akan melindungimu bahkan dengan taruhan jiwanya sekalipun"

Si bayipun tetap belum puas dan melanjutkan pertanyaannya,
"Tapi saya akan bersedih karena tidak melihat Engkau lagi"

Dan Tuhan pun menjawab,
"Malaikatmu akan menceritakan kepadamu tentang Aku. Dan akan mengajarkan
bagaimana agar kamu bisa kembali kepada-Ku. walaupun sesungguhnya Aku
selalu berada di sisimu"

Saat itu surga begitu tenangnya. sehingga suara dari bumi dapat
terdengar dan sang anak dengan suara lirih bertanya,

"Tuhan... Jika saya harus pergi sekarang, bisakah engkau memberitahu
siapa nama malaikat di rumahku nanti ?"

Tuhanpun menjawab,
"Kamu dapat memanggil malaikatmu.. . IBU"

Kenanglah ibu yang menyayangimu

Untuk ibu yang selalu meneteskan air mata ketika kau pergi...

Ingatkah engkau, ketika ibumu rela tidur tanpa selimut demi melihatmu
tidur nyenyak dengan dua selimut membalut tubuhmu

Ingatkah engkau ketika jemari ibu mengusap lembut kepalamu ?

Dan ingatkah engkau ketika air mata menetes dari mata ibumu ketika ia
melihatmu terbaring sakit ?

Sesekali jenguklah ibumu yang selalu menantikan kepulanganmu di rumah
tempat kau dilahirkan

Kembalilah memohon maaf padanya yang selalu rindu akan senyumanmu

Jangan sampai kau kehilangan saat-saat yang kau rindukan di masa datang.

Ketika ibu telah tiada...

Tak ada lagi yang berdiri di depan pintu menyambut kita
Tak ada lagi senyuman indah tanda bahagia

Yang ada hanyalah kamar yang kosong tiada penghuninya
Yang ada hanyalah baju yang digantung di lemari kamarnya

Tak ada lagi
Dan tak akan ada lagi yang meneteskan air mata mendo'akanmu disetiap
hembusan nafasnya

Kembalilah segera...
peluk ibu yang selalu menyayangimu. ..

Ciumlah kaki ibu yang selalu merindukanmu dan berikanlah yang terbaik
untuk ibu



(dari milis tetangga)

Bimbingan terbaik kepada anak adalah keteladanan

Suatu hari, sambil berjalan di pesisir pantai, seekor induk kepiting dan anaknya bercakap-cakap dalam suasana gembira. Akan tetapi induk kepiting tiba-tiba berseru "Lihat, betapa jeleknya caramu berjalan !" induk kepiting itu membentak anaknya. "Mengapa engkau tidak dapat berjalan seperti hewan yang lain ? Semua hewan lain berjalan ke depan, sedangkan engkau berjalan menyamping".

Anak kepiting itu terperanjat mendengar perkataan ibunya. Ia kemudian menjawab "Tetapi ibu, aku belajar berjalan dari ibu. Aku berjalan seperti engkau. Jika ibu menginginkan aku berjalan ke depan, maka ibu sendiri juga harus berjalan ke depan."

induk kepiting itu diam sesaat. Ia kemudian menyadari bahwa apa yang dikatakan anaknya itu benar. Karenanya, itu tidak mengatakan banyak hal lagi dan kemudian mengganti topik pembicaraan dengan yang lebih menyenangkan.

(50 Cerita Bijak, Kanisius)

"Papa, baca yang keras ya...."

Pada suatu malam Budi, seorang eksekutif sukses,seperti biasanya sibuk memperhatikan berkas-berkas pekerjaan kantor yang dia bawa pulang ke rumah,karena keesokan harinya ada rapat umum yang sangat penting dengan para pemegang saham.Ketika sedang asyik menyeleksi dokumen kantor tersebut,Putrinya Jessica datang mendekati, berdiri tepat di sampingnya,sambil memegang buku cerita baru.

Buku itu bergambar seorang peri kecil yang imut,sangat menarik perhatian Jessica.
"Pa, liat!" Jessica berusaha menarik perhatian ayahnya.
Budi menengok ke arahnya, sambil menurunkan kaca matanya.
Kalimat yang keluar hanyalah kalimat basa-basi
"Wah, buku baru ya, Jes?"
"Ya, Papa" Jessica berseri-seri karena merasa ada tanggapan dari ayahnya.
"Bacain Jessi dong, Pa," pinta Jessica lembut.
"Wah Papa sedang sibuk sekali, jangan sekarang deh," sanggah Budi dengan cepat.
Lalu ia segera mengalihkan perhatiannya pada kertas-kertas yang berserakkan di depannya.
Jessica bengong. Tapi ia belum menyerah.
Dengan suara lembut dan sedikit manja ia kembali merayu
"Pa, Mama bilang, Papa mau baca untuk Jessi."
Budi mulai agak kesal, "Jes, Papa sibuk, sekarang Jessi suruh Mama baca ya?"
"Pa, Mama cibuk terus. Nih, Papa liat gambarnya, lucu-lucu."
"Lain kali Jessica. Sana! Papa lagi banyak kerjaan!"
Budi berusaha memusatkan perhatiannya pada lembar-lembar kertas tadi.

Menit demi menit berlalu, Jessica menarik napas panjang dan tetap di situ,
berdiri di tempatnya penuh harap, dan tiba-tiba ia mulai lagi.
"Pa..., gambarnya bagus. Papa pasti suka..."
"Jessica, PAPA BILANG, LAIN KALI!!" Budi membentaknya dengan keras.

Kali ini Budi berhasil, semangat Jessica kecil terkulai, hampir menangis,
matanya berkaca-kaca dan ia bergeser menjauhi ayahnya. "Iya, Pa. Lain kali ya, Pa?"
Ia masih sempat mendekati ayahnya dan sambil menyentuh lembut tangan ayahnya,
ia menaruh buku cerita di pangkuan sang Ayah. "Pa, kalau Papa ada waktu,
Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa denger...."

Hari demi hari telah berlalu, tanpa terasa dua pekan telah berlalu namun permintaan Jessica kecil tidak pernah terpenuhi.
Buku cerita Peri imut, belum pernah dibacakan bagi dirinya.
Hingga suatu sore terdengar suara hentakan keras "Buukk..!!"

Beberapa tetangga melaporkan dengan histerisbahwa Jessica kecil terlindas kendaraan seorang pemuda mabok yang melajukan kendaraannya dengan kencang di depan rumah Budi.
Tubuh Jessica mungil terentak beberapa meter.
Dalam keadaan yang begitu panik, ambulance didatangkan secepatnya.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Jessica kecil sempat berkata dengan begitu lirih "Jessi takut Pa, Jessi takut Ma, Jessi sayang Papa-Mama."
Darah segar terus keluar dari mulutnya
hingga ia tidak tertolong lagi ketika sesampainya di rumah sakit terdekat.

Kejadian hari itu begitu mengguncangkan hati nurani Budi.Tidak ada lagi waktu tersisa untuk memenuhi sebuah janji. Kini yang ada hanyalah penyesalan.
Permintaan sang buah hati yang sangat sederhana pun tidak dia penuhi.
Masih segar terbayang dalam ingatan Budi tangan mungil anaknya yang
memohon kepadanya untuk membacakan sebuah cerita, kini sentuhan itu terasa sangat berarti sekali,
"...Papa baca keras-keras ya Pa, supaya Jessica bisa dengar..."
Kata-kata Jessi itu mengiang kembali.

Sore itu setelah segalanya berlalu, yang tersisa hanya keheningan dan kesunyian hati. Canda dan riang Jessica kecil tidak akan terdengar lagi.
Budi mulai membuka buku cerita peri imut yang diambilnya perlahan dari onggokan mainan Jessica di pojok ruangan. Bukunya sudah tidak baru lagi,sampulnya sudah usang dan koyak.
Beberapa coretan tak berbentuk menghiasi lembar-lembar halamannya
seperti sebuah kenangan indah dari Jessica kecil.
Budi menguatkan hati, dengan mata yang berkaca-kaca ia membuka halaman pertama dan membacanya dengan sura keras.
Tampak sekali ia berusaha membacanya dengan keras.
Ia terus membacanya dengan keras-keras,
halaman demi halaman, dengan berlinang air mata.
"Jessi, dengar Papa baca ya..."

Selang beberapa kata, hatinya memohon lagi
"Jessi, Papa mohon ampun, Nak.
Papa sayang Jessi.." Seakan setiap kata dalam bacaan itu begitu menggores lubuk hatinya.
Tak kuasa menahan sakit itu, Budi bersujud dan menangis...,
memohon satu kesempatan lagi untuk belajar mencintai.

(FBI)

Paman Gober Dan Ikan Ajaib

Suatu hari Paman Gober pergi ke Klub Milioner, tempat ia biasa berkumpul bersama teman-temannya. Sesampainya disana, ia melihat pengumuman perlombaan memancing untuk anggota klub dengan hadiah sepatu ladam dari emas. "Wah, perlombaan yang hebat !, Aku akan ikut serta", kata Paman Gober.
Paman Gober segera berangkat ke pelabuhan. Ia menyewa perahu motor dan kail. Dalam waktu singkat, Paman Gober berhasil mendapatkan seekor ikan yang sangat besar. Tapi, tiba-tiba ikan itu bisa berbicara. "Kumohon, lemparkan aku ke laut lagi", kata ikan tersebut. "Kalau kau melepaskan aku, aku akan mengabulkan semua permintaanmu", kata ikan itu lagi. Paman Gober berpikir,"Ikan yang bisa berbicara pasti ikan ajaib dan barangkali ikan ini memang benar-benar dapat mewujudkan apa yang paling kuinginkan." Paman Gober akhirnya meminta agar gudang uangnya dipenuhi dengan uang. "Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan, pulang dan lihatlah gudang uangmu sekarang. Setelah melemparkan ikan itu ke laut lagi, ia segera pulang dengan tergesa-gesa.
Ternyata benar, gudang uangnya sudah penuh. Penuh dengan logam emas sampai menyentuh langit-langit ruangan. Paman Gober melompat-lompat kegirangan. Tetapi Ia segera berpikir dan berkata pada dirinya sendiri, "seekor ikan yang dapat memenuhi lumbung pasti dapat melakukan hal lain yang lebih hebat, Aku terlalu cepat melepaskannya".
Paman Gober segera kembali ke pelabuhan. Sesampainya di tengah laut ia memanggil ikan ajaib tersebut. "Oh ikan," panggilnya. "Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." "Apalagi ? Bukankah gudang uangmu sudah penuh ?", Tanya si ikan ajaib. "Benar", jawab Paman Gober. "Tetapi aku meminta kebaikan hatimu, bisakah aku mendapatkan sebuah Istana ?, sepertinya tidak pantas jika aku mempunyai banyak uang tetapi masih tinggal dirumah tua saat ini", ujar Paman Gober". "Baiklah, sekarang kau akan memiliki sebuah Istana yang bagus, pulang dan lihatlah", ujar ikan sambil berenang ke laut lagi.
Setelah sampai dirumah, rumah Paman Gober sudah hilang. Ditempat itu sekarang berdiri Istana yang sangat indah dan megah. Pintunya terbuat dari emas dan lantainya dari marmer. Selama hampir satu jam Paman Gober bergembira dan bangga pada dirinya sendiri. Ia merasa masih tidak puas. "Karena aku mempunyai sebuah istana, seharusnya aku menjadi seorang raja dan duduk di singgasana dengan memakai mahkota emas", pikirnya. "Paman Gober, mungkin Paman sudah gila !!", kata Donal. Paman Gober tidak perduli, karena pikirannya hanya harta terus, ia segera pergi ke pelabuhan untuk menemui ikan ajaib lagi. "Apalagi sekarang ?, apa Istana itu kurang bagus?", tanya sang ikan ajaib. "Istana itu indah sekali, Istana itu cocok untuk tempat tinggal seorang raja, karena itu aku ingin menjadi raja, ujar Paman Gober." "Tidak masuk akal !", kata si ikan. "Begitukah ucapan terima kasihmu setelah aku melepaskan dan membiarkanmu pergi !?" "Baiklah", kata ikan itu. "Aku akan mengabulkan permintaanmu kali ini, berusahalah menjadi raja yang baik", lanjutnya.
Ketika sampai di Istananya, banyak pelayan yang menyambut dan memberi hormat kepada Paman Gober. Diujung ruangan terdapat sebuah singgasana dan sebuah mahkota dari emas. Tidak berapa lama setelah menikmati menjadi raja, Paman Gober kembali berpikir, mungkin seorang raja tidak cukup berharga. Ia ingin menjadi seorang Kaisar untuk seluruh dunia. Sehingga tidak ada seorangpun yang akan menertawakanku.
Paman Gober kembali menemui Ikan ajaib. Setelah ia memanggil-manggil, ikan ajaib itu muncul menyembulkan kepalanya. "Apa lagi sekarang ?", Tanya si ikan. "Menjadi seorang raja tidaklah cukup hebat bagiku," kata Paman Gober. "Aku ingin menjadi Kaisar Agung", lanjutnya. "Apakah ketamakanmu tidak ada akhirnya ?" Tanya si ikan lagi. "Sekarang aku tahu kekuatan ajaib ini tidak cukup membuat orang tamak sepertimu merasa puas dan bahagia, pulanglah dan sekarang kau harus berbahagia dengan apa yang kau miliki seperti ketika belum bertemu denganku", kata Ikansambil pergi meninggalkan Paman Gober.
Paman Gober pulang kembali. Ia tidak menemui Istananya, begitu pula singgasana dan mahkotanya. Semuanya lenyap termasuk gudang uangnya yang menjadi seperti semula. Paman Gober mulai menangis. Ia menangisi semua hartanya yang lenyap. Beberapa saat kemudian, Paman Gober mengingat kembali kata Ikan ajaib. "Tak ada kekuatan ajaib yang bisa memuaskan orang yang tamak, berbahagialah dengan apa yang kau miliki". Ia segera berhenti menangis dan mengeringkan air matanya. "Lumbung uangku ini bukan separuh kosong, tetapi separuh penuh. Mungkin aku tidak terlalu miskin", pikirnya. "Ikan itu adalah ikan yang bijak", kata Paman Gober. "Sekarang ikut aku Donal, kita akan makan malam. Sesampainya direstoran Paman Gober dan Donal memakan makanan yang lezat sambil tertawa bersama. Tetapi, setelah mereka selesai makan, Paman Gober memberikan rekening tagihannya kepada Donal. Ternyata, Paman Gober masih belum berubah, walaupun Ikan ajaib telah memberinya pelajaran.
Pesan Moral : Semua nikmat dan rezeki yang didapatkan setiap hari harus selalu kita syukuri. Ketamakan dan keserakahan dapat membuat seseorang menjadi kehilangan segalanya. TAMAT
(www.pustaka78.com)

Bank-kan Hasil Ngemis selama 44 Tahun

Hemat pangkal kaya, gemar menabung demi masa depan tampaknya benar-benar dipegang teguh oleh Laxmi Das, seorang wanita asal Kalkuta, India. Maka tak heran jika baru-baru ini perempuan 60 tahun yang dikenal sebagai pengemis itu membuka rekening pertamanya di sebuah bank dengan setoran awalnya berupa recehan seberat 91 kilogram yang diperolehnya dari hasil meminta-minta selama sekitar 44 tahun terakhir.
“Saya sengaja menyimpannya sebagai modal jika suatu saat nanti saya tidak bisa meminta-minta lagi” ujar Das saat diwawancarai BBC pada Kamis (10/07/08). Menurut pengakuannya, dia sudah menjadi pengemis sejak masih kanak-kanak lantaran virus polio yang menyerang kakinya.
Awalnya Das tidak berniat menyimpan harta karunnya itu di Bank. Namun atas anjuran beberapa personel kepolisian setempat, dia pun bersedia membawa recehan seberat 91 kilogram tersebut ke Bank Sentral India cabang Manikota, karena ternyata diantara ribuan keping koin tersebut terdapat beberapa koin langka yang saat ini bernilai sekitar USD 800.
Manajer Bank Sentral India cabang Manikota T.K. Haldar memuji sikap bijak Das yang mau bersusah payah meyisihkan pendapatannya demi masa depan. “Dia bisa dijadikan teladan supaya masyarakat gemar menabung. Das sudah membuktikan bahwa berapapun pendapatan yang kita peroleh, kita tetap bisa menyisihkan sebagian untuk ditabung” ujarnya.
Menerima setoran berupa receh seberat 91 kilogram ternyata bukan perkara mudah bagi Bank Sentral India. Dibutuhkan waktu selama tiga hari untuk menghitung jumlah setoran awal Das.
(JawaPos 12/07/08)